Category

Dakwah

Category

Malam ini setelah Isya, seperti biasa mertua mengisi kajian ibu-ibu sepuh di Pesantren Darush Sholihin. Materi beliau sederhana, mengajarkan hafalan quran dan doa-doa. Sejak dulu memang beliau biasa mengajarkan anak-anak hingga orang sepuh sampai mereka bisa baca Al-Qur’an.

Adapun kami sendiri hanya meneruskan dakwah beliau. Dukungan beliau sangat besar sekali pada kami.

  • Selain diberi anak perempuan yang shalihah, dari sisi fasilitas pun kami didukung.
  • Beliau memiliki tanah yang luas di sisi barat rumah. Di situlah kami bisa memperluas lahan pesantren dengan dana dari berbagai donatur, juga bisa memperluas masjid yang saat ini menjadi dua lantai.
  • Motivasi beliau untuk kami pun sangat besar untuk berdakwah. Bahkan kadang kalau kami tidak bisa hadir karena kurang fit, beliau yang menggantikan.

Di antara yang kami kagumi dari beliau:

– beliau adalah orang yang ingin ikuti dalil, tidak ingin taklid.

– dahulu kalau hari raya dan terkait masalah fikih, beliau selalu ikut pendapat salah satu ormas namun sekarang beliau tinggalkan fanatik kelompok dan lebih mau ikuti apa kata dalil.

– dulu juga beliau jadi pemimpin acara selamatan kematian (istilahnya: Pak Kaum), namun sekarang beliau tinggalkan tradisi itu secara total karena lebih ingin jauhi hal-hal yang tidak ada tuntunan, walau ketika itu beliau ditinggalkan jamaah yang begitu banyak.

Semoga Allah terus menjaga beliau, diberi berkah umur dan terus diberi kesehatan.


DarushSholihin.Com

Pimpiman Pesantren: M. Abduh Tuasikal

Sharing lagi, kami tidak mengatakan dakwah kami sukses. Namun sekedar berbagi barangkali bisa ditiru para da’i lainnya.

Keinginan baru muncul memiliki pesantren, saat kami sedang studi di Arab Saudi tepatnya di kota Riyadh, melanjutkan Chemical Engineering (konsentrasi: Polymer Engineering) di King Saud University. Awalnya, pesantren ini dibangun dari sisa donasi Ramadhan. Dibelilah tanah di sebelah selatan masjid dengan harga 6 juta rupiah yang luasnya kurang lebih 150 meter persegi. Dari 2010 gedung tersebut dibangun. Akhirny 2012, sudah selesai dan mulai digunakan untuk TPA satu Padukuhan Warak. Akhirnya berkembang meluas menjadi 600-an santri dari Panggang dan Saptosari. Berkembang pula bukan hanya kajian untuk anak-anak, ada juga kajian dewasa hingga pengajian rutin Malam Kamis yang saat ini dihadiri 1200 jama’ah dari Panggang, Saptosari, dan Purwosari Gunungkidul.

 

Latar belakang membangun pesantren:

• Membina masyarakat yang masih kurang dalam pemahaman agama.
• Mendidik kawasan yang dulu terkenal brutal, sebagaimana pengakuan warga dan kepolisian terhadap Dusun Warak. Walhamdulillah, sekarang malah polisi salut akan perubahan drastis dusun ini.
• Mengikis budaya syirik dan jauh dari tuntunan dengan dakwah secara perlahan, tidak langsung spontan.

 

Kenapa tidak mendirikan pondok untuk menampung santri luar?

• Ingin konsen membina masyarakat.
• Lahan yang masih sempit.
• Kalau pondok dibuka, kebanyakan santri yang dididik adalah santri luar, akhirnya pendidikan pada santri lokal berkurang.
• Tidak ingin kelihatan eksklusif.
Tidak sedikit pondok pesantren berdiri, namun pondok jauh sekali dari interaksi dengan masyarakat, karena ada tembok pemisah dengan masyarakat sekitar. Pendidikan pada masyarakat sangat-sangat minim. Pondoknya maju, namun masyarakat masih sangat jauh dari agama. Bahkan masyarakat tidak simpati pada pondok karena kurangnya pergaulan pondok dan masyarakat sekitar.
• Banyak saingan dari sekolah lain, di utara dan selatan pesantren sudah banyak SD, SMP atau MTS dan SMA atau SMK. Kalau didirikan sekolah atau madrasah resmi, takutnya anak-anak malah mengisi pesantren kami, sekolah atau madrasah lain jadi kosong.

 

Keadaan santri lokal:

• TPA: 600-an santri (hari Senin – Jumat dibagi dua gelombang)
• Puteri SMP: 30 (Sabtu Sore)
• Puteri SMA: 15 (Malam Ahad)
• Putera SMP dan SMA: 25 (Malam Senin)
• Santri hafalan anak-anak: 50-an (ba’da Shubuh Senin – Sabtu dan sore hari)
• Santri hafalan ibu-ibu: 30-an (Dibagi enam kelas dari Senin – Sabtu)
• Santri hafalan remaja putera: 8 (Ba’da Shubuh, Senin – Sabtu)
• Ibu-ibu sepuh (Iqra’ dan Al-Qur’an): 150 (Malam Ahad)
• Ibu-ibu muda (Iqra’ dan Al-Qur’an): 130 (Ahad Sore)
• Bapak-bapak (Iqra’ dan Al-Qur’an): 70 (Malam Senin)
• Pengajian Rutin untuk Umum: 1200 (Malam Kamis)
• Pengajian Akbar: terakhir 4000 jama’ah (Tiga Bulan Sekali)
• Pengajian para da’i dan takmir masjid: 70 (Ahad Pagi)
• Pengajian khusus da’i lokal, diskusi Bulughul Maram: 5 (Ahad Siang)

Perlu sekali adanya pembinaan pada da’i-da’i lokal dan takmir masjid. Untuk tujuan tersebut diadakan kajian Ahad pagi (ba’da Shubuh) membahas Kitab Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi, ada juga di Ahad siang dengan Diskusi Bulughul Maram. Materi-materi yang diperoleh disampaikan lagi pada masyarakat sekitar.

 

Pengajar pesantren:

• TPA: pengajar dari warga sekitar pesantren, ada 30 pengajar untuk mengampu 600-an santri.

• Hafalan puteri: saat ini diasuh oleh dua alumni Ma’had Al-I’tisham Puteri Wonosari Gunungkidul.

• Sisa kajian untuk seluruh kajian dewasa dan hafalan putera diampu oleh kami sendiri.

Bagi yang ingin menjadi donatur tetap untuk Pesantren Darush Sholihin di sini.

Moga manfaat sharing ini bagi yang lain, moga bisa hadir pula pesantren masyakarat di daerah lainnya. Dakwah pasti punya tantangan, namun tentu ada strategi untuk mengatasi pertentangan masyarakat. Doakan kami untuk terus bisa istiqamah.

* Foto di bawah, bapak/bapak yang hadir dalam Kajian Akbar Ustadz Badrusalam, Lc yang dihadiri oleh 4000 jama’ah. Foto di bawahnya lagi adalah suasana saat kajian bagi para da’i dan takmir masjid sehabis Shubuh hingga dilanjutkan dengan sarapan pagi.

strategi_dakwah_04

Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com

 

Ini salah satu strategi lagi. Sengaja kami membagikannya bukan untuk menganggap sudah berhasil dalam dakwah, namun sekedar sharing. Juga sebagai bentuk syukur dengan tahadduts bi ni’matillah -menyebut-nyebut anugerah Allah-.

Pahami …

Istiqamah itu penting sekali. Maksud istiqamah adalah terus teguh dan ajeg pada sesuatu.

Istiqamah bisa jadi dalam belajar dan mencari ilmu. Istiqamah bisa ada dalam beramal. Istiqamah juga penting dalam berdakwah.

Coba telaah … Pengajian yang jama’ahnya ajeg atau bisa terus istiqamah adalah ketika Ustadz atau Da’i yang mengampu kajian tersebut ajeg.

Beberapa kajian yang kami dengar, jama’ahnya makin surut bahkan bubar karena ustadznya kurang istiqamah. Kadang kajian yang sudah diampu rutin tiba-tiba kosong, cuma karena ustadznya sibuk penuhi jadwal luar kota. Dan itu berlangsung sering. Walaupun memang ada beberapa ustadz yang tetap konsekuen dengan jadwal rutinnya di pesantren atau masjidnya, jadwal luar kota sama sekali tidak mengganggu.

Untuk kami sendiri, kalau ada yang mengajukan jadwal mengisi luar kota, kami selalu menolak selalu menolak. Alasannya, “Maaf kami ini kyai kampung. Kasihan di sini tidak ada ustadz. Tidak ada pengganti. Masih awal-awal membangun dakwah.”

Kadang kalau kami ke luar kota, biasa pula ada masalah di desa dan warga butuh tempat bertanya. Juga kalau ada orang meninggal dunia di desa, kami biasa datangi untuk ta’ziyah sekaligus menyolatkan jenazahnya.

Beda kalau mungkin di satu kota banyak ustadz pengganti atau di pondok pesantren lain banyak ustadz lainnya yang bisa jadi cadangan.

Nah kami … dakwah saja baru dibangun. Kalau kami keluar, siapa yang mau ganti? Kasihan kan jama’ah jadi nganggur kalau sering keluar kota.

Jadwal yang bisa kami penuhi hanyalah jadwal di Jakarta dan hanya di hari kerja Senin – Rabu. Selainnya sulit, karena jadwal padat kami adalah Sabtu dan Ahad di Pesantren Darush Sholihin, ada 10 kajian di dua hari tersebut. Kalau ke Jakarta bisa langsung pulang pergi, berangkat jam 6 pagi, lalu jam 3 sore sudah sampai Jogja lagi. Kemudian sorenya masih bisa mengisi di Jogja atau di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

• Dari kajian yang ajeg inilah yang membuat jama’ah terus bisa istiqamah untuk ngaji.

Kajian yang kami ampu setiap Malam Kamis awalnya 10 orang. Namun terus saja ajeg ngaji. Akhirnya dibuka untuk umum -bapak-bapak dan ibu-ibu-. Awalnya bahas fikih Umdatul Ahkam. Namun karena kondisi jamaah yang butuh pemahaman sederhana akhirnya kajian tersebut bergantian dengan materi Riyadhus Sholihin Masalah Fadhilah Amal dan YASINAN (Kajian Tafsir Surat Yasin). Saat ini, kajian tersebut sudah diikuti 1200 jama’ah dalam kurun tiga tahun ini. Mereka datang dari berbagai dusun di Panggang, Purwosari dan Saptosari.

Walhamdulillah ‘ala hadzihi ni’mah. Walhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Strategi Dakwah sebelumnya, silakan kunjungi DarushSholihin.Com.

* Foto: Jama’ah rutin kajian rutin malam Kamis. Jama’aah hingga 1200, kajian di lapangan Pesantren hingga duduk di jalan-jalan.

Pengajian di Dusun Jurug Panggang

 

Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com

Warak, 19 Dzulqa’dah 1436 H: Foto di bawah adalah keadaan santri saat TPA kemarin sore. Mereka belajar di Pesantren Darush Sholihin Warak Girisekar Gunungkidul setiap Selasa, Rabu dan Jumat. Yang belajar pada hari-hari tersebut baru separuh dari santri TPA yang berjumlah 600-an di pesantren DS. Hari Senin dan Kamis ada pula santri yang berbeda yang datang dari berbagai dusun yang jauh dan ada pula pengajaran yang berlangsung di masjid warga dengan mengirim pengajar dari pesantren.

Santri Pesantren Darush Sholihin 2 September 2015
Santri Pesantren Darush Sholihin 2 September 2015

Dari anak-anak inilah orang tua mereka ingin mengikuti pengajian rutin di Pesantren.

Saat TPA, di antara mereka ada yang diantar oleh orang tua dan ada yang berangkat sendiri dengan mengikuti mobil jemputan seperti dalam foto. Walau tidak ditemani ortu, anak akan terus mendapatkan laporan mengenai hasil pembelajaran dari buku prestasi santri dan raport di akhir semester.

Dari situlah ortu tahu bahwa anak diajar dengan baik di Pesantren DS. Ada sekolah pun yang sangat bersyukur dengan keadaan pesantren karena anak didiknya jadi bagus dalam bacaan Al-Qur’an.

Namun pengaruh yang kami rasakan penting adalah pada orang tua. Setiap ortu santri terpengaruh dengan didikan pesantren pada anaknya. Sehingga ortunya pun ingin ikut merasakan ilmu dalam kajian rutin akhir pekan di Pesantren DS atau mengikuti kajian besar yang rutin setiap Malam Kamis (yang saat ini mencapai 1000 jama’ah yang hadir dari berbagai padukuhan). …

1100 Jama'ah hadir dalam pengajian malam Kamis di Pesantren Darush Sholihin Warak Girisekar, Panggang, Gunungkidul.
1100 Jama’ah hadir dalam pengajian malam Kamis di Pesantren Darush Sholihin Warak Girisekar, Panggang, Gunungkidul.

Walhamdulillah, itu semua berkat hidayah dan nikmat Allah.

# Ini salah satu strategi dakwah …

Kalau ingin mendidik kalangan dewasa, bisa mulai dari didikan pada anak-anaknya terlebih dahulu. Baiknya bukan hanya ada TPA, namun ada pengajian pula untuk membina masyarakat. Sehingga anak-anak mengenal dakwah Sunnah, begitu pula orang tuanya.

Kami pun mendoakan di daerah lain bisa tertular seperti ini. Bisa pula mencontoh Pesantren Darush Sholihin.

Semoga Allah beri hidayah pada kita semua.

* Semua berkat nikmat Allah. Saat ini keadaan masjid Pesantren sedang direnovasi sehingga sebagian santri mesti belajar TPA di Lapangan Pesantren.

Di antara strategi yang bisa diterapkan bagi para da’i adalah berhati-hati dalam mengeluarkan statement, “Ini bid’ah”. Kenapa?

Sebagian masyarakat, terutama yang masih awam, yang jarang baca, yang juga sangat terpengaruh dari kyai, sangat phobia pada da’i-da’i yang mudah mengeluarkan kata bid’ah. Mereka bahkan sudah menyatakan dirinya anti dengan bid’ah.

Coba kata bid’ah diganti dengan “amalan yg tidak ada tuntunan” atau “amalan itu tidak ada dalilnya”. Pilihan kalimat semacam ini lebih mudah mengena dan tepat sasaran. Maksudnya pun sama, namun lebih halus.

Karena sebagian masyarakat kita masih menganggap bahwa bid’ah itu ada yang baik dan ada yang buruk, yaitu bid’ah hasanah atau bid’ah sayyi’ah. Namun coba langsung dijawab, “Itu tidak ada tuntunannya, pak”. Mereka akan lebih mudah menerima, dan tidak akan keluar lagi statement hasanah atau sayyi’ah dari jama’ah atau mad’u.

Ini sedikit kiat yang seringkali kami terapkan. Apalagi ketika mengisi di masyarakat awam.

Pernah kami mengisi di Kampung Betawi di Jakarta, materinya adalah kesempurnaan Islam. Tentu saja kami harus menyinggung masalah bid’ah. Namun sama sekali dalam kajian tidak ada kata bid’ah yang keluar. Yang ada kami memakai kalimat, “Seperti itu tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Yang biasa gawe masalah, itu yang nanya. Biasa keluar pertanyaan begini dari jama’ah, “Ini bid’ah atau bukan, Ustadz.” Da’i harus pintar-pintar memberikan jawaban untuk masalah ini. Dan semestinya jama’ah yang sudah paham bisa mengatur baik-baik pertanyaannya sehingga tidak membuat jama’ah yang lain resah.

Silakan dipraktikkan, ini di antara kiat dakwah yang kami terapkan di Gunungkidul di mana jama’ah terus semangat meneriman ilmu karena mereka mau menerima jika dakwah disampaikan dengan strategi yang tepat. Ingatlah, tetap harus yakin Allah-lah yang beri taufik, kita manusia hanya penyampai semata.

Baiknya baca: Strategi Dakwah 01: Dakwahi Dahulu Bahaya Syirik ataukah Yasinan?

Moga manfaat.

DarushSholihin.Com

Membangun dakwah itu perlahan-lahan, tak bisa secepat membuat mie instan. Ada materi yang bisa ditunda, ada materi yang mesti disampaikan segera mungkin karena kebutuhan masyarakat.

Contohnya, da’i bisa saja menunda pembahasan Yasinan, karena masyarakat belum bisa menerima. Ada waktu yang tepat -nanti- yang tetap juga akan disampaikan. Kita sepakat bahwa menjelaskan kesesatan syirik itu lebih urgent daripada membahas hukum yasinan.

Sifat dakwah juga bukan memaksa, seorang da’i hanya punya tugas penyampai ilmu. Sedangkan, yang memberi hidayah dan membuka hati adalah Allah semata.

> Foto di bawah adalah foto saat kajian malam Kamis tadi malam yg dihadiri hingga 900-an warga masyarakat dari berbagai dusun hingga kecamatan berbeda di sekitar Pesantren Darush Sholihin. Kajian diadakan di lapangan pesantren, karena tidak muat jika mesti di masjid.

Bahasan kajian Malam Kamis: Tafsir Surat Yasin. Jadi sebenarnya kami tidak anti Yasinan. Hmmm.

Kunjungi DarushSholihin.Com, Pesantren Masyakarat di Panggang Gunungkidul

Kajian_malam_kamis
Kajian Malam Kamis di Lapangan Pesantren Darush Sholihin, jama’ah meluber dari lapangan hingga di jalanan, total jama’ah 900-an.

DarushSholihin.Com

Pin It