Ini salah satu strategi lagi. Sengaja kami membagikannya bukan untuk menganggap sudah berhasil dalam dakwah, namun sekedar sharing. Juga sebagai bentuk syukur dengan tahadduts bi ni’matillah -menyebut-nyebut anugerah Allah-.

Pahami …

Istiqamah itu penting sekali. Maksud istiqamah adalah terus teguh dan ajeg pada sesuatu.

Istiqamah bisa jadi dalam belajar dan mencari ilmu. Istiqamah bisa ada dalam beramal. Istiqamah juga penting dalam berdakwah.

Coba telaah … Pengajian yang jama’ahnya ajeg atau bisa terus istiqamah adalah ketika Ustadz atau Da’i yang mengampu kajian tersebut ajeg.

Beberapa kajian yang kami dengar, jama’ahnya makin surut bahkan bubar karena ustadznya kurang istiqamah. Kadang kajian yang sudah diampu rutin tiba-tiba kosong, cuma karena ustadznya sibuk penuhi jadwal luar kota. Dan itu berlangsung sering. Walaupun memang ada beberapa ustadz yang tetap konsekuen dengan jadwal rutinnya di pesantren atau masjidnya, jadwal luar kota sama sekali tidak mengganggu.

Untuk kami sendiri, kalau ada yang mengajukan jadwal mengisi luar kota, kami selalu menolak selalu menolak. Alasannya, “Maaf kami ini kyai kampung. Kasihan di sini tidak ada ustadz. Tidak ada pengganti. Masih awal-awal membangun dakwah.”

Kadang kalau kami ke luar kota, biasa pula ada masalah di desa dan warga butuh tempat bertanya. Juga kalau ada orang meninggal dunia di desa, kami biasa datangi untuk ta’ziyah sekaligus menyolatkan jenazahnya.

Beda kalau mungkin di satu kota banyak ustadz pengganti atau di pondok pesantren lain banyak ustadz lainnya yang bisa jadi cadangan.

Nah kami … dakwah saja baru dibangun. Kalau kami keluar, siapa yang mau ganti? Kasihan kan jama’ah jadi nganggur kalau sering keluar kota.

Jadwal yang bisa kami penuhi hanyalah jadwal di Jakarta dan hanya di hari kerja Senin – Rabu. Selainnya sulit, karena jadwal padat kami adalah Sabtu dan Ahad di Pesantren Darush Sholihin, ada 10 kajian di dua hari tersebut. Kalau ke Jakarta bisa langsung pulang pergi, berangkat jam 6 pagi, lalu jam 3 sore sudah sampai Jogja lagi. Kemudian sorenya masih bisa mengisi di Jogja atau di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

• Dari kajian yang ajeg inilah yang membuat jama’ah terus bisa istiqamah untuk ngaji.

Kajian yang kami ampu setiap Malam Kamis awalnya 10 orang. Namun terus saja ajeg ngaji. Akhirnya dibuka untuk umum -bapak-bapak dan ibu-ibu-. Awalnya bahas fikih Umdatul Ahkam. Namun karena kondisi jamaah yang butuh pemahaman sederhana akhirnya kajian tersebut bergantian dengan materi Riyadhus Sholihin Masalah Fadhilah Amal dan YASINAN (Kajian Tafsir Surat Yasin). Saat ini, kajian tersebut sudah diikuti 1200 jama’ah dalam kurun tiga tahun ini. Mereka datang dari berbagai dusun di Panggang, Purwosari dan Saptosari.

Walhamdulillah ‘ala hadzihi ni’mah. Walhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Strategi Dakwah sebelumnya, silakan kunjungi DarushSholihin.Com.

* Foto: Jama’ah rutin kajian rutin malam Kamis. Jama’aah hingga 1200, kajian di lapangan Pesantren hingga duduk di jalan-jalan.

Pengajian di Dusun Jurug Panggang

 

Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com


Dukung kami:
Untuk Operasional RumayshoCom dan Pesantren Darush Sholihin melalui https://goo.gl/MT3nvi
Untuk Pembangunan Masjid Pesantren Al-Anshor Liang Ambon melalui https://goo.gl/zvahpI
Untuk Pelebaran Masjid Darush Sholihin (Jami' Al-Adha) melalui https://goo.gl/Smhwqm

Artikel Terkait

Write a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *