Tag

strategi dakwah

Browsing

Mendidik masyarakat lokal itu lebih berat daripada membentuk lingkungan di suatu perumahan lalu mengimpor orang-orang yang sudah paham agama untuk masuk di dalamnya. Yang menantang adalah jika mendidik masyarakat lokal.

Tantangan mendidik masyarakat lokal:

1- Pemahaman awal masyarakat berbeda dengan ajaran Islam yang baru dikenalkan.

2- Ada tokoh masyarakat yang punya pengaruh yang mesti didekati.

3- Tuduhan sesat pada ajaran yang baru datang pasti ada.

4- Pendidikan masyarakat yang masih rendah berpengaruh dalam penerimaan dakwah.

5- Kalau tak punya dukungan untuk mendekati masyarakat dengan kegiatan sosial, sulit untuk berkembang.

Kalau masyarakatnya diimpor dari luar:

1- Pemahaman agama bisa sama.

2- Tokoh bisa diangkat yang paling paham agama (seorang ustadz), atau yang paling didengar, atau yang paling senior.

3- Tuduhan sesat tidak ada, karena samanya pemahaman.

4- Pendidikan rata-rata sama.

5- Semua orang yang rata-rata berkemampuan.

Penjelasan di atas bukanlah membahas manakah lingkungan yang hendak dipilih. Setiap orang bisa melihat keadaan diri dan kemampuan dirinya. Kalau memang ia tidak mampu berdakwah, maka ia bisa memilih lingkungan impor. Namun disarankan lingkungan ini baiknya tidak terlihat EKSKLUSIF dan hendaklah bisa memberikan manfaat agama untuk lingkungan sekitar, begitu pula dalam memberi manfaat dunia.

Kalau memang mampu berdakwah dan bisa mempengaruhi masyarakat, ia bisa memilih untuk memberi pengaruh pada masyarakat luas.

 

Muhammad Abduh Tuasikal

Pimpinan Pesentren Darush Sholihin dan Pengasuh Rumaysho[dot]Com

 —

Mengisi ceramah, baik tema umum, atau kajian kitab sekalipun, seorang pembicara hendaklah bisa menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Karena pengutaraan yang baik akan memahamkan pendengar ketika menyimak isi ceramah. Beda kalau bahasa Indonesianya sendiri tidak tertata dengan baik, termasuk dalam tulisan maupun khutbah.

Walau kita lulusan pesantren pun, harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Hindarilah sebisa mungkin bahasa kitab.

Salah satu contoh, harusnya dalam menerjemahkan kalimat:

قالت عائشة

“Aisyah berkata …”

Namun kalau kurang dalam memahami bahasa Indonesia, maka terjemahannya akan menjadi:

“Berkata Aisyah …”

Dalam bahasa Indonesia, harusnya subjek yang didahulukan barulah objek. Baiknya tidak terlalu leterlek dalam membahasakan kitab.

Contoh lagi penggunaan bahasa yang terlalu tinggi.

Beberapa kali kami membaca teks khutbah Idul Adha, menurut penilaian kami, gaya bahasanya terlalu tinggi. Padahal notabene masyarakat yang mendengar khutbah adalah awam dan berpendidikan biasa. Beda kalau audiencenya para pejabat di istana negara, mungkin pas menggunakan gaya bahasa yang tinggi.

Contoh lagi penggunaan bahasa yang bisa diterjemahkan namun dibiarkan begitu saja padahal istilah ini kalau pendengarnya orang awam, tentu tidak paham.

“Misalnya, para ikhwan wa akhwat rahimakumullah.”

Baiknya menggunakan:

“Misalnya, bapak-bapak dan ibu-ibu serta jamaah sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah.”

# Berbahasa yang baik akan membuat dakwah diterima dengan baik.

Silakan buktikan.

Yang mencintaimu karena Allah:

Muhammad Abduh Tuasikal

 

@ Perjalanan Jogja – Panggang, 11 Dzulhijjah 1437 H saat sunset

Rumaysho[dot]Com dan DarushSholihin[dot]Com

Di antara bentuk pendekatan Pesantren Darush Sholihin pada masyarakat adalah dengan membangun masjid. Namun prioritasnya untuk “Masyarakat Gunungkidul”, lebih-lebih lagi jama’ah yang sudah mengikuti pengajian rutin di Darush Sholihin seperti pada pengajian rutin Malam Kamis yang jamaahnya hingga 2000-an. Selama ini, kami tidak menerima dari luar Gunungkidul.

Salah satu contoh kali ini dari Masjid An-Nur, Pudak, Giriwungu, Panggang, Gunungkidul. Masjid ini adalah salah satu masjid yang aktif mengikuti Pengajian Malam Kamis dan juga mengikuti kajian rutin Jumat Wage di Giriwungu. Masjid tersebut mengajukan proposal untuk dibuatkan tempat wudhu. Sebelumnya tempat wudhunya memang belum layak.

Coba perhatikan, membantunya tidak terlalu besar, namun pengaruhnya luar biasa karena mereka sudah merasa terbantu dan diperhatikan.

Ada juga yang sekedar meminta dibelikan sound system masjid yang bagus (speaker, ampli, dan corong menara masjid), juga kipas angin hingga karpet. Ada juga yang meminta dipasang meteran air di masjidnya. Ada pula yang lebih dari itu sampai meminta masjidnya direnovasi total dengan alasan masjid yang sudah terlalu tua dan tidak bisa menampung jama’ah.

Besar dana yang dikeluarkan untuk proposal tersebut dilihat dari kelayakan dan kemampuan pesantren DS. Intinya, pesantren DS tidak membangun asal-asalan, DS selalu memperhatikan kualitas. Hal ini dapat dilihat pada Masjid Jami’ Al-Adha yang saat ini berfungsi sebagai masjid pesantren. Juga tahun lalu, ada 4 masjid lainnya yang dibangun hingga menghabiskan biaya lebih dari 2 Milyar rupiah.

Ada yang bertanya, sumber dananya dari mana?

Tahukan web Rumaysho.Com, di situ biasa ditemukan iklan-iklan donasi di halaman utama. Nah dari situlah sumber dananya. Sekarang ini saja visitor normal Rumaysho.Com per hari adalah 70 ribu. Coba bayangkan bagaimana jika 70 orang saja dari jumlah tadi memberikan sumbangan untuk Darush Sholihin, berapa dana yang diperoleh?

Perkembangan selanjutnya ada beberapa masjid yang dibangun oleh Darush Sholihin di Indonesia Timur terutama di Solor, Flores Timur dan Ambon, Maluku.

Lihat program masjid dan cara berdonasi di sini:
https://darushsholihin.com/masjid

Laporan donasi masjid bulan Agustus 2016 ada di sini:
https://docs.google.com/…/1v2dwC-SPopb3Z7xl912KQG5…/htmlview

Semoga kiat ini juga bermanfaat.

Info DarushSholihin.Com | Category: Strategi Dakwah | 12 Dzulhijjah 1437 H

Semuanya memberdayakan masyarakat.

Ada yang bertanya dari mana Darush Sholihin bisa menyiapkan hewan qurban yang begitu banyak untuk Gunungkidul sekitarnya? Apakah membeli dari luar daerah, dari luar Gunungkidul?

Hal di atas ditanyakan oleh seorang Kepala KUA di Gunungkidul.

Jawabannya, semuanya diperoleh dari masyarakat. Untuk menyiapkan 400 ekor kambing dan 70 sapi yang saat ini diperoleh, DS hanya membeli dari masyarakat sekitar Panggang, Purwosari dan Saptosari pada desa-desa yang berada di sekitar DS. Karena beli dari warga langsung, tanpa makelar yang biasa melambungkan harga, maka bisa dapat harga relatif murah dibanding harga pasar. Itulah namanya pesantren masyarakat, tujuannya memberdayakan.

Dalam hal pengajar TPA pun demikian. Tidak ada pengajar yang diimpor dari luar daerah. Cukup warga tersebut mau dibimbing oleh pengasuh DS, maka mereka bisa mengajarkan iqra’ dan Al-Qur’an serta materi agama untuk anak-anak. Kalau pengajar seperti ini diambil dari luar, tentu akan timbul kecemburuan. Jadi, masyarakat dibimbing untuk bisa mengajarkan ilmu pada yang lainnya seperti syarat pengajar harus mau dibimbing untuk mengikuti program tahfizh Qur’an. Rata-rata dari pengajar TPA tadi sudah memiliki hafalan dua juz.

Dalam hal penyediaan konsumsi kajian dan membeli kebutuhan pesantren, semuanya memanfaatkan potensi catering dan toko atau warung yang di sekitar DS, bukan memesan dari luar. Bahkan ketika jam pembelajaran TPA, warga memanfaatkan pula untuk menjual jajanan mereka pada anak-anak. Itulah namanya pemberdayaan pada pesantren masyarakat.

Dalam hal sopir dan security, itu pun memanfaatkan masyarakat sekitar. Bahkan ada yang menjadi security masih bertato. Tahulah seperti itu, dulunya bagaimana?

Dalam membangun pesantren, masjid dan jalan yang menjalankan itu semua, mulai dari mandor sampai tukang-tukangnya adalah dari warga sekitar pesantren. Bahkan untuk membeli semen dan pasir hingga transportasinya cuma memanfaatkan warga sekitar yang memiliki toko bangunan dan truck.

Dalam hal kecil seperti memasang spanduk kajian dan tukang parkir saat Kajian Akbar seperti terakhir bersama Ustadz Syafiq Basalamah dengan dihadiri 7000 jama’ah, semuanya memanfaatkan pemuda sekitar pesantren, bahkan sebagian bisa dikata adalah preman kampung. Kalau yang mengurus kajian seperti ini, siapa yang bisa buat onar?

 

Kalau seperti di atas, mungkinkah timbul kesenjangan dan perselisihan antara masyarakat dan pesantren? Mungkinkah pula ada masyarakat yang mendemo kajian?

Semoga jadi tips yang bermanfaat untuk berdakwah di masyarakat.

 

Info DarushSholihin.Com

Jangan buat dakwah itu eksklusif.

Dakwah itu butuh pendekatan-pendekatan, tokoh-tokoh itu perlu didekati.

Mereka nantinyalah yang akan membela ketika dakwah Islam diserang.

Beda kalau kita malah menjauh dari mereka, sowan ke lurah dan dukuh saja tidak, bagaimana dakwah Islam akan berkembang.

 

dengan_Bupati_Camat

 

# Bersama Wakil Bupati Gunungkidul, Bapak Dr. Immawan Wahyudi dan Camat Purwosari, Bapak Sukis Heriyanto saat peresmian Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin bulan Mei lalu.

Semoga Allah senantiasa menjaga para pemimpin kita dalam kebaikan.

 

DarushSholihin.Com

Pin It