Mengisi ceramah, baik tema umum, atau kajian kitab sekalipun, seorang pembicara hendaklah bisa menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Karena pengutaraan yang baik akan memahamkan pendengar ketika menyimak isi ceramah. Beda kalau bahasa Indonesianya sendiri tidak tertata dengan baik, termasuk dalam tulisan maupun khutbah.

Walau kita lulusan pesantren pun, harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Hindarilah sebisa mungkin bahasa kitab.

Salah satu contoh, harusnya dalam menerjemahkan kalimat:

قالت عائشة

“Aisyah berkata …”

Namun kalau kurang dalam memahami bahasa Indonesia, maka terjemahannya akan menjadi:

“Berkata Aisyah …”

Dalam bahasa Indonesia, harusnya subjek yang didahulukan barulah objek. Baiknya tidak terlalu leterlek dalam membahasakan kitab.

Contoh lagi penggunaan bahasa yang terlalu tinggi.

Beberapa kali kami membaca teks khutbah Idul Adha, menurut penilaian kami, gaya bahasanya terlalu tinggi. Padahal notabene masyarakat yang mendengar khutbah adalah awam dan berpendidikan biasa. Beda kalau audiencenya para pejabat di istana negara, mungkin pas menggunakan gaya bahasa yang tinggi.

Contoh lagi penggunaan bahasa yang bisa diterjemahkan namun dibiarkan begitu saja padahal istilah ini kalau pendengarnya orang awam, tentu tidak paham.

“Misalnya, para ikhwan wa akhwat rahimakumullah.”

Baiknya menggunakan:

“Misalnya, bapak-bapak dan ibu-ibu serta jamaah sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah.”

# Berbahasa yang baik akan membuat dakwah diterima dengan baik.

Silakan buktikan.

Yang mencintaimu karena Allah:

Muhammad Abduh Tuasikal

 

@ Perjalanan Jogja – Panggang, 11 Dzulhijjah 1437 H saat sunset

Rumaysho[dot]Com dan DarushSholihin[dot]Com

Author

Pesantren Darush Sholihin berdomisili di Dusun Warak, Panggang, Gunungkidul. Pesantren ini bertujuan membina masyarakat sekitar, tanpa pondokan mulai dari usia anak-anak hingga sepuh.

Write A Comment

Pin It