Tag

dauroh liburan

Browsing

Ini beberapa komentar jamaah yang ikut dauroh di DS, terakhir saat dauroh Bahasa Arab (24 – 27 Juni 2019) dan dauroh Tsalatsatul Ushul (28 Juni – 1 Juli 2019).

 Alhamdulillah sangat senang sekali bisa dikasih kesempatan untuk mengikuti dauroh matan Tsalatsatul ushul di pesantren darush sholihin, dibimbing langsung oleh ustadz @⁨Muhammad Abduh Tuasikal⁩ , dan diberi fasilitas yang luar biasa selama mengikuti dauroh , pulang dari dauroh dapat ilmu yang bermanfaat, makanan selama dauroh sabgat lezat-lezat.,

Jazakallah khoir ustadz @⁨Muhammad Abduh Tuasikal⁩ ,

Ttd.

Murid antum yang fakir ilmu 🙏🏻

Bagus Prasetya

Semakin nambah ilmu dan semakin istiqomah ngejar ilmu ustadz, banyak teman sholeh terutama teman2 gunung kidul dengan berbagai macam karakter, menjadi cermin buat ana dari jamaah GK akan kesederhanaan mereka, tingkah laku, cara berkomunikasi, ceplas ceplos, bahkan ada yg menganggap ana sebagai keluarga, 

Kesan bertamu ke ke rumah jamaah GK di beri sayuran yg langsung dari kebun nya…indahnya banyak saudara/yeman..

Pak Iwan

Alhamdulillah

kami merasakan begitu banyak kenikmatan yang kami terima saat dauroh

pelayanan all in.

100% puas.

kenyang ilmu

kenyang perut

kenyang fresh juga…krn juga ada sesi refreshing k pantai…

pokok nya puasssss

Pak Anto

—-

Alhamdulillaahil-ladzii bini’matihi tatimmush-saalihaat.

Secara pribadi saya merasakan waktu-waktu terbaik dalam hidup adalah ketika mengikuti setiap dauroh di Darush Sholihin. Sebab lebih terjaganya waktu untuk hal yang bermanfaat, sikap lebih terjaga karena banyak teman-teman yang shalih sehingga bisa belajar dari mereka di setiap gerak-geriknya.

Berada di lingkungan seperti inilah yang menuntut untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Sampai-sampai air yang seharusnya lebih dingin daripada di kota ketika menjelang Subuh menjadi tak terasa begitu dingin digunakan untuk mandi karena rasa semangat menuntut ilmu, tidak ingin mengantuk ketika belajar di pagi harinya.

Tak lupa yang selalu membuat kangen adalah menu makanan ala desa yang terasa lebih nikmat jika berada beneran di desa.

Di tulis di rumah saat menikmati teh hangat dan peyek kacang, Jalan Godean KM 5, Guyangan, 29 Syawal 1440

oleh Penggemar Sayur Lombok DS

Fuad Martha

—-

Bismillah, ustadz ana Adhimum Mar’atis Sholihah (atis) yg alhamdulillah mengikuti dauroh ushul tsalatshah selama 4 hari di DS kemarin.

Jazaakumullaahu khairaa untuk ustadz dan segenap pihak yg sudah banyak membantu kami dalam ber thalabul ‘ilmi, Alhamdulillah ana bisa menambah ilmu selama dauroh, nambah teman juga.. Selama menginap di rumah warga, masya Allah mereka begitu ramah dan baik.. Dijamu dgn baik, sampai masih dikasih makanan juga rasanya ana sampai tidak enak takut merepotkan.. Warga sekitar DS baik sekali sangat mengistimewakan pendatang dan tamunya..

Semoga Allah senantiasa memberikan keistiqomahan dan kemudahan dalam thalabul ‘ilmi dan berdakwah.. Aamiin..

Atis Jogja

Yang gak ikut nyesel banget loh…. acara dikemas dg begitu tertib, teratur, bbrp hari di DS gak terasa , tau2 udah hari terakhir..,, semua di gratisin sm ustd MAT, sampai ke pantai juga semua gratis… duh jadi rikuh 🙈 ilmu yg didapat begitu banyak… tanpa ada kejenuhan dlm mengikuti semua materi karena cara ustd menyampaikan sersan bngt (=serius tapi santai) sukses ya ustd… semoga ada daurah lagi di DS dan saya bs ikut lagi tentunya

Bu Irma

Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmushsholihat… Bagi yg pernah Dauroh di DS pastinyaa kalau pulang ke kampung halamannya rindu bgt sama DS, suasana belajar dg simbah2 yg sepuh, Sayur “Jangan Lombok”, rekreasi ke pantai, temen2 yg baru, ilmu yg bermanfaat dll. Dan semuanya gratis tanpa terkecuali… Moga bisa ikut dauroh selanjutnya… Maturnuwun sanget Ustadz @mabduhtuasikal Moga njenengan dijaga dan diberi kemudahan Alloh Ta’ala. Aamiin

Adam Muhammad

MasyaAllah, bahagia sekali menjadi bagian dari ratusan peserta yg menimba ilmu di DS. Merasakan lezatnya berburu ilmu, ikut kajian rutin bersama warga dgn rame-rame naik bus, sampai jalan-jalan ke pantai… Seru bangeet… 💕 jadi rindu ke DS lagi… Semoga Dauroh selanjutnya bisa ikut lagi… Aamiin. Jazakumullah khoir ust dan panitia…

Arsi Dwiyani

Masya allah, di DS itu suatu tempat yg bkin rindu dan ada efek candu nya, rasa ingin kesana terus, dan ada kala malu tatkala melihat semangat org sana ngajii , Semoga next daurah , allah kasih mudah untuk dtg lagi kesana

Desi Diyan Marta

Bagaimana Anda yang membaca komentar ini semakin tertarik ke DS bukan?

Info DarushSholihin.Com

Jedanya itu lama banget …

Pertama kalinya saya ikut nyantren kilat di pesantren Darush Sholihin (untuk selanjutnya kita singkat jadi DS), saya terbengong-bengong menanti iqomatnya, di masjid Jami’ Al-Adha, masjid di DS itu.

Jedanya bisa belasan menit kalau jam sholat siang. Hampir 20 menit ketika waktu Maghrib. Di waktu Shubuh? Lebih dahsyat lagi, bisa sekitar 30 menit jeda antara adzan dan iqomatnya.

Weleh-weleh.. ‘Kok gak dateng-dateeeng ini ustadz, lama banget.. Bosen gue..’ ujar saya dalam hati, sembari menahan kantuk saat waktu Shubuh. Jaman itu jaman masih bengal soalnya.

Ketika ustadz Abduh akhirnya datang, ditandai dengan suara khas grendel gerbang besi dibuka ‘CTENG’, lalu sliding door jalan akses antara masjid dan rumah ustadz dibuka, saya selalu bahagia. ‘Yesss! Akhirnya, ayoo sholat!’ pekik saya dalam batin.

.

Adzan Maghrib berkumandang. Saya yang baru saja selesai menyapu halaman rumah, masih bercucuran peluh. Baju basah oleh keringat. Badan terasa menghangat karena metabolisme meningkat.

‘Wah sudah adzan.. Mandi dulu lah. Sempat lah ini..’

Ketika baru saja selesai mandi, badan segar semua debu luruh terbasuh, saya yang sedang mengeringkan badan saya, mendengar suara khas iqomat dari kakek tua desa setempat.

‘Allahu akbar allahu akbar.. Asyhadu alla ila ha ilallah..’

‘Wogh kok wes iqomat???’ batin saya terkejut.

Segera saya memakai baju koko, sedikit wewangian, dan berusaha tetap stay calm, walaupun dalam hati sebenarnya ‘kesusu’ untuk mengejar takbiratul ihram (Takbir pertama dalam sholat).

Dan berakhir gagal. Saya tetap masbuk. (Makmum yang ketinggalan sholat.)

Kejadian yang sering berulangkali saya alami, ketika sholat di masjid desa.

Di suatu malam yang dingin-dingin empuk disebabkan oleh ‘Mbediding Season’ di dusun Warak, di lapangan Darush Sholihin kami sedang bercengkrama mengikuti kajian santai bersama ustadz Abduh.

Kajian santai yang benar-benar santai, karena di seputar lokasi kajian, ustadz Abduh mengajak penduduk desa yang mau, untuk membuka ‘angkringan’. Walaupun saya rasa lebih tepat disebut ‘lapak emperan’ karena gerobak kayu coklat khas angkringan, tidak ada di sana.

Ketika segelas Chocolatos panas dengan gula batu yang saya pesan datang, saya menyeruputnya sedikit demi sedikit.

Seruputan itu, membantu menghangatkan dinginnya malam Mbediding Season, sembari mendengarkan ustadz Abduh membacakan pertanyaan yang tak jarang kocak, mengundang jawaban dan respon hadirin yang tak kalah kocaknya.

Pokoknya gayeng.

Sampai pada seruputan yang entah keberapa, saya mendengar pertanyaan yang kurang-lebih seperti ini dibacakan :

‘Ustadz, kenapa sih jeda adzan dan iqomat di DS lama banget?’

‘Wha ini pasti dari salah satu anak baru, yang baru ke DS..’ batin saya.

Kemudian ustadz menjawab :

‘Itu sebenarnya sudah lama saya bikin begitu. Dari dulu, semenjak saya diangkat untuk mengurus masjid.

Warga sini kan ada yang jadi tukang, nah mereka itu pasti butuh waktu lebih untuk bersiap-siap.

Saya gak pengen pada ketinggalan jamaah (maksudnya gak ketinggalan takbiratul ihram). Kalo jedanya panjang kan enak.’

Di situ saya tercenung. ‘Hooo gituuu… Iya juga sih..’

Sebenarnya jeda panjang antara adzan dan iqomat itu banyak juga benefitnya. Malah bisa jadi win-win solutions untuk banyak pihak.

1. Yang gak pengen sholat jamaah jadi lebih semangat berjamaah ke masjid, karena tau tetap ditungguin (jedanya panjang).

2. Yang datang duluan bisa dapat shof di depan (pahala lebih besar).

3. Yang datang duluan bisa punya waktu berdoa, berdzikir, dan beristighfar lebih banyak. (Rentang waktu mustajab antara adzan & iqomat makin lebar)

4. Bagi imam bisa murojaah (mengulang hapalan) surat yang mau dibaca pas sholat nanti, apalagi kalo suratnya relatif panjang

5. Makmum gak tergopoh-gopoh menuju masjid, tetap stay cool ‘n calm sesuai sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Ini baru benefit dari sepengamatan saya saja. Pastinya jauh lebih banyak lagi manfaatnya.

Ternyata begitu..

Indahnya beramal setelah berilmu. Melakukan sesuatu, setelah mengetahui apa yang boleh, apa yang tidak, sesuai tuntunan. Diiringi dengan cara penyampaian yang ‘halus dan lembut’.

Sebuah inspirasi singkat dari jeda iqomat.

Tulisan salah satu jamaah dauroh DS:
Brian Rush MBI


Alamat Darush Sholihin binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal (pesantren masyarakat):
Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Lokasi: http://bit.ly/DSrumaysho

DarushSholihin.Com

“NGAJI FIRQOTUN NAJIYAH”

Bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

• Isi Bahasan: Firqah Selamat vs Firqah Sesat karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu
• Plus Kajian Fikih Puasa dari Safinatun Najah karya Syaikh Salim Al-Hadrami
• Tanya Jawab

10 – 12 Mei 2018
24 – 26 Sya’ban 1439 H

[Kamis Tanggal Merah, Jumat, Sabtu]

Dibatasi penginapan hanya untuk ikhwan (pria), menginap di masjid. Akhwat tidak disediakan tempat menginap. Ngaji dari 06.00 – 17.00 WIB.

Biaya GRATIS, buku gratis, makan gratis.

Kuota terbatas hanya untuk 250 orang (ikhwan – akhwat).

Alamat Ngaji Firqotun Najiyah:Pesantren Darush Sholihin @ Dusun Warak RT.08 / RW.02, Desa Girisekar, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55872 • Map: http://bit.ly/DSrumaysho

Cara Daftar, kirim format ke WA 081325006805:

Ngaji_Firqoh# Nama Lengkap# Alamat# No. HP# Ikhwan atau Akhwat

KALAU BELUM YAKIN IKUT, MENDING TIDAK MENDAFTARKAN DIRI

Info Kajian: 081325006805

Info Donasi DS: 0811267791

 

 


Info Rumaysho – DS

www.darushsholihin.com

Pin It