Category

Berita Pesantren

Category

Jedanya itu lama banget …

Pertama kalinya saya ikut nyantren kilat di pesantren Darush Sholihin (untuk selanjutnya kita singkat jadi DS), saya terbengong-bengong menanti iqomatnya, di masjid Jami’ Al-Adha, masjid di DS itu.

Jedanya bisa belasan menit kalau jam sholat siang. Hampir 20 menit ketika waktu Maghrib. Di waktu Shubuh? Lebih dahsyat lagi, bisa sekitar 30 menit jeda antara adzan dan iqomatnya.

Weleh-weleh.. ‘Kok gak dateng-dateeeng ini ustadz, lama banget.. Bosen gue..’ ujar saya dalam hati, sembari menahan kantuk saat waktu Shubuh. Jaman itu jaman masih bengal soalnya.

Ketika ustadz Abduh akhirnya datang, ditandai dengan suara khas grendel gerbang besi dibuka ‘CTENG’, lalu sliding door jalan akses antara masjid dan rumah ustadz dibuka, saya selalu bahagia. ‘Yesss! Akhirnya, ayoo sholat!’ pekik saya dalam batin.

.

Adzan Maghrib berkumandang. Saya yang baru saja selesai menyapu halaman rumah, masih bercucuran peluh. Baju basah oleh keringat. Badan terasa menghangat karena metabolisme meningkat.

‘Wah sudah adzan.. Mandi dulu lah. Sempat lah ini..’

Ketika baru saja selesai mandi, badan segar semua debu luruh terbasuh, saya yang sedang mengeringkan badan saya, mendengar suara khas iqomat dari kakek tua desa setempat.

‘Allahu akbar allahu akbar.. Asyhadu alla ila ha ilallah..’

‘Wogh kok wes iqomat???’ batin saya terkejut.

Segera saya memakai baju koko, sedikit wewangian, dan berusaha tetap stay calm, walaupun dalam hati sebenarnya ‘kesusu’ untuk mengejar takbiratul ihram (Takbir pertama dalam sholat).

Dan berakhir gagal. Saya tetap masbuk. (Makmum yang ketinggalan sholat.)

Kejadian yang sering berulangkali saya alami, ketika sholat di masjid desa.

Di suatu malam yang dingin-dingin empuk disebabkan oleh ‘Mbediding Season’ di dusun Warak, di lapangan Darush Sholihin kami sedang bercengkrama mengikuti kajian santai bersama ustadz Abduh.

Kajian santai yang benar-benar santai, karena di seputar lokasi kajian, ustadz Abduh mengajak penduduk desa yang mau, untuk membuka ‘angkringan’. Walaupun saya rasa lebih tepat disebut ‘lapak emperan’ karena gerobak kayu coklat khas angkringan, tidak ada di sana.

Ketika segelas Chocolatos panas dengan gula batu yang saya pesan datang, saya menyeruputnya sedikit demi sedikit.

Seruputan itu, membantu menghangatkan dinginnya malam Mbediding Season, sembari mendengarkan ustadz Abduh membacakan pertanyaan yang tak jarang kocak, mengundang jawaban dan respon hadirin yang tak kalah kocaknya.

Pokoknya gayeng.

Sampai pada seruputan yang entah keberapa, saya mendengar pertanyaan yang kurang-lebih seperti ini dibacakan :

‘Ustadz, kenapa sih jeda adzan dan iqomat di DS lama banget?’

‘Wha ini pasti dari salah satu anak baru, yang baru ke DS..’ batin saya.

Kemudian ustadz menjawab :

‘Itu sebenarnya sudah lama saya bikin begitu. Dari dulu, semenjak saya diangkat untuk mengurus masjid.

Warga sini kan ada yang jadi tukang, nah mereka itu pasti butuh waktu lebih untuk bersiap-siap.

Saya gak pengen pada ketinggalan jamaah (maksudnya gak ketinggalan takbiratul ihram). Kalo jedanya panjang kan enak.’

Di situ saya tercenung. ‘Hooo gituuu… Iya juga sih..’

Sebenarnya jeda panjang antara adzan dan iqomat itu banyak juga benefitnya. Malah bisa jadi win-win solutions untuk banyak pihak.

1. Yang gak pengen sholat jamaah jadi lebih semangat berjamaah ke masjid, karena tau tetap ditungguin (jedanya panjang).

2. Yang datang duluan bisa dapat shof di depan (pahala lebih besar).

3. Yang datang duluan bisa punya waktu berdoa, berdzikir, dan beristighfar lebih banyak. (Rentang waktu mustajab antara adzan & iqomat makin lebar)

4. Bagi imam bisa murojaah (mengulang hapalan) surat yang mau dibaca pas sholat nanti, apalagi kalo suratnya relatif panjang

5. Makmum gak tergopoh-gopoh menuju masjid, tetap stay cool ‘n calm sesuai sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Ini baru benefit dari sepengamatan saya saja. Pastinya jauh lebih banyak lagi manfaatnya.

Ternyata begitu..

Indahnya beramal setelah berilmu. Melakukan sesuatu, setelah mengetahui apa yang boleh, apa yang tidak, sesuai tuntunan. Diiringi dengan cara penyampaian yang ‘halus dan lembut’.

Sebuah inspirasi singkat dari jeda iqomat.

Tulisan salah satu jamaah dauroh DS:
Brian Rush MBI


Alamat Darush Sholihin binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal (pesantren masyarakat):
Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Lokasi: http://bit.ly/DSrumaysho

DarushSholihin.Com

Beginilah suasan open house 1 – 3 Syawal 1440 H di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul.

Berbagai jamaah hadir dari berbagai daerah di Gunungkidul, terutama yang biasa hadir di kajian rutin Ustadz M. Abduh Tuasikal. Istimewanya open house di DS adalah ada sesi tausiyah, tanya jawab, hingga makan prasmanan. Jamaah yang hadir dalam open house begitu puas dengan sajian tausiyah dan tanya jawab langsung, serta menu open house yang istimewa. Kapan Anda mau hadir ke #darushsholihin?

Semoga bawa berkah.

Info Darush Sholihin

Kajian Sahur, alhamdulillah nikmati ilmu dari kitab Bulughul Maram (Ibnu Hajar), setelah itu nikmati makan sahur yang penuh berkah.

Ilmu waktu sahur masih fresh banget, makan sahurnya pun penuh berkah karena menjalankan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kajian ini dihadiri oleh para takmir, juga oleh masyarakat umum di sekitar pesantren #darush sholihin dan Gunungkidul.

Kapan Anda mau rasakan makan sahur di #darushsholihin? Pasti sudah tahu menunya apa yang istimewa? Coba sebutkan bagi yang pernah ke #darushsholihin.

Kajian makan sahur ini didukung pula oleh donasi Ramadhan ke #darushsholihin. Semoga bawa berkah bagi para donatur.

 

 

Info Donasi DS: wa.me/62811267791

 


 

Info Rumaysho – Darush Sholihin

Ini adalah komentar lainnya dari salah satu jamaah Darush Sholihin sekaligus salah satu komite Darush Sholihin (yang biasa mengawasi kegiatan DS), yaitu Bapak Sumardiyono yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah di Kecamatan Saptosasi. Ia mendapat hikmah saat mendampingi jamaah makan malam jelang pengajian Malam Kamis. Kala itu ia mengikuti rapat dengan Pimpinan Pesantren DS (Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal) bersama komite DS (di antaranya ada pula Bapak Camat Ponjong, Sukis Heriyanto) yang berlangsung dari 17.00 WIB hingga menjelang Maghrib pada 24 Januari 2018 kemarin. Sehabis shalat Maghrib, semua peserta kajian Malam Kamis termasuk komite DS menuju ruang makan di sebelah utara Masjid DS. Ternyata sudah ada antrian yang mengular. Padahal ruang makan sangat terbatas dan sempit. Namun alhamdulillah, ruangan tersebut tetap bisa melayani hampir 300 jamaah setiap Malam Kamis. Mereka yang dilayani ini biasa yang datang sebelum Maghrib, padahal kajian baru berlangsung bada Isya hingga pukul 21.30 WIB. Menu yang disajikan di ruang makan tersebut kadang dengan menu soto, sop, atau lainnya. Pak Sumar menyatakan, “Saat itu, saya yang seorang guru mengamati mereka mudah sekali untuk diatur. Saat itu saya bersama Pak Camat (Sukis Heriyanto) membantu melayani mereka. Ada jamaah yang sudah dapat giliran di depan. Tetapi karena di belakangya ada seorang ibu hamil dan membawa anak kecil, mereka yang di depan rela mengalah demi ibu tersebut.”

Pak Sumar menilai bahwa ini sungguh luar biasa sementara yang masih di luar begitu sabar mengantri sambil bercerita perjalanan dari rumah. Mereka nampaknya berasal dari dua daerah berbeda dari zona tenggara yaitu Tepus dan dari zona utara, daerah Nglipar. Betapa akrabnya mereka.

Dari situ Pak Sumar mengambil kesimpulan bahwa mengatur orang yang beriman dan bertakwa itu lebih mudah. Ia terakhir menyatakan, “Saya bayangkan jika siswa-siswi saya menjadi pribadi yang seperti itu, betapa lebih mudah mengatur mereka.”

Demikian salah satu pelajaran lagi dari Kajian Malam Kamis. Moga menjadi pelajaran.

Donasi Kajian Malam Kamis, bisa cek di sini: https://darushsholihin.com/donasi-kajian

Info DarushSholihin.Com

Cerita kajian Malam Kamis di Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang. Lihat perjuangan warga desa untuk hadir di pengajian yang dibina langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.

Ini salah satu penuturan Bu Zubaidah dari Tumpak Playen Gunungkidul, “Alhamdulillah, keistiqamahaan jamaah Tumpak terjaga. Ba’da Maghrib sudah kumpul dengan armada bus mini. Rasanya bila tidak ada hajat kampung yang mendadak inginnya terus ngaji. Terasa perubahaan karakter dari masing-masing jamaah, yang dulu suka gosip, sekarang malu bila sampai gosip. Terutama kajian tentang riba adem panas semua, semua butuh proses agar bisa jadi lebih baik. Kalau kami pulang sekitar pukul 22.00 WIB sampai rumah. Ketika perjalanan, tidak lupa jamaah menikmati seperti wisata. Ada yang membawa cemilan, kopi mix, dan lainnya. Ini juga termasuk refreshing. Alhamdulillah dengan dapat ilmu hati seneng. Coba monggo rasakan sendiri ibu-ibu.”

Ada lagi jamaah yang sama dari Tumpak yaitu komentar dari Bu Muryati di Group WA DS, “Saya selalu pusing mual campur aduk ketika berangkat kajian. Tetapi setelah mengikuti kajian, seneng, penyampaiannya enak mudah dipahami, apa yang disampaikan disertai dalil. Pokoknya pusingnya langsung hilang.”

Tunggu cerita lainnya tentang Kajian Malam Kamis.

Donasi Kajian Malam Kamis, bisa cek di sini: https://darushsholihin.com/donasi-kajian

Info DarushSholihin.Com

Saptuari Sugiharto kemarin cerita pas berkunjung ke DS,

“Ada yang punya kartu kredit 20. Lalu utangnya 600 juta.”

Kami cuma geleng-geleng, kok bisa yah?

Inilah suasana diskusi riba bersama Saptuari Sugiharto saat beliau hadir di Pesantren Darush Sholihin, Ahad Kliwon, 22 Oktober 2017. Saat itu dihadiri kurang lebih 4000 jamaah.

Sehabis Ashar beliau menyampaikan materi bersama kami. Kami membahas materi riba, sedangkan beliau membahas pengalaman beliau yang dulu pernah bangkrut dan terlilit utang riba.

Semoga menjadi pelajaran bagi semua untuk meninggalkan riba.

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Adapun tidak disebutnya nama sahabat tetap tidak mencacati hadits tersebut karena seluruh sahabat itu ‘udul [baik].)

Bisa miliki buku terbaru kami “Taubat dari Utang Riba dan Solusinya” seharga Rp.125.000,-, pesan via WA 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Com). Moga riba bisa teratasi dengan ilmu.

Muhammad Abduh Tuasikal

Info DarushSholihin.Com

Pin It